Onion Club - Onion Head - Onion-kun

Jumat, 13 Mei 2016

REMPAH-REMPAH


MAKALAH
pengetahuan bahan pangan
Rempah-rempah
“jahe”







                        Dosen Pengajar          : Dr.Dedin F .Rosida, STP .MKes
                        Nama Kelompok        :  kelompok 6
                        Anggota Kelompok    : Qori’atul Maqiilaa                             (1533010068)
                                                            Nuzul Nurrochma Rendragraha        (1533010071)
                                                            Linda Arum Ning Tyas                     (1533010070)
                                                            Qurrotu ‘Ayun                                  (1533010072)


PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAWA TIMUR


KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, atas limpahan rahmat dan karunia-Nya kepada kami, sehingga dapat menyelesaikan makalah ini. Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Pengetahuan Bahan Pangan (PBP) dengan harapan dapat menambah wawasan bagi kami sebagai penulis pada khususnya dan para pembaca makalah ini pada umumnya.
Makalah ini memuat tentang Pengetahuan Bahan Pangan yang pada khususnya tentang Rempah-Rempah. Penulis menyadari bahwa makalah ini  jauh dari kata sempurna dan masih banyak kekurangan baik ditinjau dari isi maupun dari segi penyajiannya. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran atau masukan yang dapat dijadikan perbaikan dan penyempurnaan untuk makalah selanjutnya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita. Amiin.



Surabaya, April 2016


Penulis


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR…………………………………………………….……...i
DAFTAR ISI ………………………………………………………………….....ii
BAB I         PENDAHULUAN ………………………………………….………1
1.1.            Latar Belakang ……………………………………………1
1.2.            Rumusan Masalah …………………………………….......1
1.3.            Tujuan …………………………………………………….2
1.4.            Manfaat ……………………………………………..…….2
BAB II            ISI ………………………………………………...…....................3
                        2.1.      Pengertian Rempah-Rempah……………………..………..3
                        2.2.      Jenis-Jenis Rempah-Rempah ………………………..……3
                        2.3.      Pengertian Rempah-Rempah Jahe …………………….......8
                        2.4.      Penggolongan Rempah-Rempah Jahe………………........13
                        2.5       Komponen Kimia Jahe………………………………...…16
                        2.6       Faktor  yang Mempengaruhi Komposisi Rimpang Jahe.......16
                        2.7       Perubahan Pasca Panen pada Jahe……………………….20
BAB III          KESIMPULAN …………………………………………………21
DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………...………23

 BAB 1
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
         Indonesia merupakan Negara yang potensial sebagai sumber dan produsen rempah-rempah maupun herbal. Sejak jaman dahulu masyarakat Indonesia sudah memanfaatkan rempahrempah dan herbal sebagai tanaman obat dan penyedap makanan dan minuman. Bahkan, rempah-rempah dan herbal ini pula yang menarik perhatian Negara-negara Eropa. Untuk datang ke Indonesia, seperti Portugis, Spanyol, Belanda dan Inggris, sehingga Indonesia menjadi Negara jajahan yang potensial bagi kesejahteraan Negara Eropa.
         Rempah-rempah telah luas dikenal sebagai pemberi cita rasa atau bumbu dan disamping itu rempah-rempah banyak digunakan untuk jamu tradisional. Rempah-rempah adalah bagian tumbuhan yang beraroma atau berasa kuat yang digunakan dalam jumlah kecil di makanan sebagai pengawet atau penambah rasa dalam masakan. Rempah-rempah biasanya dibedakan dengan tanaman lain yang digunakan untuk tujuan yang mirip, seperti tanaman obat, sayuran beraroma, dan buah kering.
Rempah-rempah merupakan bahan hasil pertanian yang digunakan sebagai sumber citarasa dan aroma. Rempah-rempah mengandung oleorisin sehingga cita rasa dan aromanya tajam dan spesifik.


1.2.Tujuan
Tujuan dari penulisan  makalah ini adalah sebagai berikut :
a.       Mengetahui pengertian rempah-rempah
b.      Mengetahui jenis-jenis rempah-rempah
c.       Mengetahui pengertian rempah-rempah jahe
d.      Mengetahui penggolongan rempah-rempah jahe
e.       Mengetahui komposisi kimia jahe
f.       Mengetahui faktor yang mempengaruhi komposisi rimpang jahe
g.      Mengetahui perubahan pasca panen pada jahe
1.3.Manfaat
Manfaat dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
a.       Mahasiswa dapat mengetahui pengertian rempah-rempah
b.      Mahasiswa dapat mengetahui jenis-jenis rempah-rempah
c.       Mahasiswa dapat mengetahui pengertian rempah-rempah jahe
d.      Mahasiswa dapat mengetahui penggolongan rempah-rempah jahe
e.       Mahasiswa dapat mengetahui komposisi kimia jahe
f.       Mahasiswa dapat mengetahui faktor yang mempengaruhi komposisi rimpang jahe
g.      Mahasiswa dapat mengetahui perubahan pasca panen pada jahe

 BAB II
ISI
2.1.      Pengertian Rempah-Rempah
            Rempah-rempah merupakan bahan tambahan yang tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia dan banyak digunakan sebagai bumbu dalam makanan tradisional. Bumbu merupakan hal yang penting dalam setiap masakan karena dapat berfungsi untuk meningkatkan cita rasa makanan dan dapat digunakan sebagai pengawet makanan. Cita rasa yang diberikan dapat berupa bau harum dan sedap atau rasa tajam yang menyenangkan sehingga dapat memberikan karakteristik pada bahan pangan tersebut. (Dorkas Sianipar dkk, 2008)
            Rempah adalah bagian tumbuhan yang beraroma atau berasa kuat yang digunakan dalam jumlah kecil di makanan sebagai pengawet atau perisa dalam makanan. Rempah merupakan bagian terpenting dari masakan karena jika rempah tidak dimasukkan maka citarasa dan aroma dari masakan tersebut berkurang.        (Muchtadi Tien R. dkk, 2010)

2.2.      Jenis-Jenis Rempah-Rempah          
Rempah/Herbal
Nama Botani
Bagian Edible
Negara Penghasil/asal
Ajowan
Trachyspermum ammi
(L.) Sprague
Biji
Persia and india
Aniseed
Pimpinella anisum L.
Buah
Mexico, Netherlands, Spain
Basil
Ocimum basilicum L.
Daun
France, Hungary, USA, Serbia and Montenegro
Bay leaf
Laurus nobilis L.
Daun
Turkey, USA, Portugal
Cardamom
Elettaria cardamomum
White et Mason
Buah
India, Guatemala
Large cardamom
Amomum subulatum
Roxb.
Buah
India, Nepal, China
Cassia (kayu
manis)
Cinnamomum cassia (L.)
Presl
Batang, kulit kayu
China, Indonesia, South Vietnam
Celery
Apium graveolens L.
Fruit
France and India
Chilli
Capsicum frutescens L.
Fruit
Ethiopia, India, Japan, Kenya, Mexico, Nigeria, Pakistan, Tanzania, USA
Cinnamon (kayu
manis)
Cinnamomum verum
syn.
C. Zeylanicum
Batang, kulit kayu
Sri Lanka, india
Cengkeh
Syzygium aromaticum
(L.) Merr. et Perry
Kuncup bungan
Indonesia, Malaysia, Tanzania
Ketumbar
Coriandrum sativum L.
Buah
Argentina, India, Morocco, Romania, Spain, Serbia and Montenegro
Cumin
Cuminum cyminum L.
Buah
India, Iran, Lebanon
Curry leaf
Murraya koenigii Spreng
Daun
India, Burma
Dill
Anethum graveolens L.
Buah
India
Fennel (adas)
Foeniculum vulgare Mill.
Buah
Argentina, Bulgaria, Germany, Greece, India, Lebanon
Fenugreek
Trigonella foenumgraecum L.
Buah
India
Garcinia
Garcinia cambogia
Buah
India, Sri Lanka
Bawang putih
Allium sativum L.
Blub/clove
Argentina, India
Jahe
Zingiber officinale Rosc.
Rimpang
India, Jamaica, Nigeria, Sierra Leone
Mint
Mentha piperita L.
Biji
Bulgaria, Egypt, France, Germany, Greece, Morocco, Romania, Rusia, UK
Mustard
Brassica nigra (L.) Koch
Biji
Canada, Denmark, Ethiopia, UK, India
Nutmeg/Pala
Myristica fragrans Houtt.
Aril/seed kernel
Grenada, Indonesia, India
Onion/Bawang
Allium cepa L.
Umbi/blub
Argentina, Romania, India
Oregano
Origanum vulgare L.
Daun
Greece, Mexico
Paprika
Capsicum annuum L.
Buah
Bulgaria, Hungary, Morocco, Portugal, Spain, Serbia and Montenegro
Parsley
Petroselinum crispum
(Mill) Nyman ex A.W. Hill
Daun
Belgium, Canada, France,Germany, Hungary
Black pepper
Piper nigrum L.
Buah
Brazil, India, Indonesia, Malaysia, Sri Lanka, Vietnam
Poppy
Papaver somniferum L.
Biji
The Netherlands, Poland, Romania, Turkey, Russia
Rosemary
Rosmarinus officinalis L.
Daun, ujung tunas
France, Spain, USA, Serbia and Montenegro
Sage
Salvia officinalis L.
Daun
Albania, Serbia and Montenegro
Star anise
Illicium verum Hooker fil.
Buah
China, North Vietnam
Tamarind
Tamarindus indica L.
Buah
Indonesia, Vietnam
Turmeric
Curcuma longa L.
Rimpang
China, Honduras, India, Indonesia, Jamaica
Vanilla
Vanilla planifolia Andrews
Buah/beans
Indonesia, Madagascar, Mexico, india
(Parthasarathy et al., 2009.)
Klasifikasi rempah dibuat berdasarkan kesamaan dalam memberikan efek terhadap penampakan dan karakter rasa maupun aroma, serta berdasarkan keunikan dari beberapa kelompok tumbuhan: rempah pedas (cabai, merica, jahe); rempah dari buah aromatic (pala dan puli, kapulaga); rempah dari keluarga umbelliferons (bunga lawang, ketumbar, jaitun); rempah yang mengandung senyawa cinamic aldehyde (kayu manis); rempah yang kaya senyawa-senyawa fenolik (cengkeh dan daun salam); dan rempah yang memberi efek warna (kunyit, kayu secang)
1. Rempah pedas, kepedasan cabai berbeda dengan merica kepedasan cabai disebabkan oleh senyawa capsaicin yang kadarnya berbeda tergantung varietasnya. Kepedasan lada disebabkan oleh senyawa piperine yang berbentuk kristal. Sedang kepedasan yang terdapat pada jahe disebabkan oleh senyawa tak teruapkan yaitu zingerone, gingerol dan shogoal. Disamping memberikan efek pedas, rempah pedas juga memiliki minyak atsiri yang memberikan bau sangat aromatic.
2. Buah aromatic, komponen terpentingnya adalah minyak atsiri yang berkisar 16- 17% dalam biji pala dan 4-15% dalam puli palanya. Karakter rasa pala adalah segar, pahit, hangat, pedas, manis, sedang aromanya tajam. Pala dan puli pala banyak ditambahkan dalam biscuit, roti, sup dan lain-lain. Kapulaga berupa biji
2 dari keluarga jahe-jahean memiliki aroma yang unik dan eksotik, pedas, spicy (khas rempah-rempah) disertai rasa manis. Komponen utama pembawa aroma spesifik tersebut adalah cineole dan a- terpinyl acetat. Banyak digunakan dalam sup dan campuran kopi atau teh.
3. Rempah umbelliferons, bunga lawang (diperoleh dari buah yang berbentuk bintang dengan biji didalamnya, aroma spesifik berasal dari a-pinene, anethole, methyl cavicol, dan anisketon. Banyak digunakan dalam biscuit dan saus), ketumbar (mengandung pinene, dipentene cymene, a-terpinene, geremol), jinten (kaya senyawa aroma disamping a-cymene juga mengandung cuminyl alcohol).
4. Rempah yang mengandung senyawa cinamic aldehyde, kayu manis diperoleh dari pohon kayu Cinnamomum zeynalicum yang mengelupas, mengering, dan menggulung. Minyak atsiri yang terkandung berkisar antara 1.5-2.5% dengan komponen utama frefural, caryophyllene dan cumin aldehyde. Banyak digunakan dalam permen, sirup, kue, kari, dan buah-buahan yang diolah.
5. Rempah yang kaya senyawa-senyawa fenolik, kuncup bunga cengkeh dan daun salam tinggi kandungan eugenolnya. Daun salam mengandung sekitar 1-3.5% dengan komponen utama cineole, eugenol, geraniol, terpinol, pinene. Disamping untuk makanan daun salam digunakan sebagai obat-obatan.
6. Rempah yang memberi efek warna, kunyit memberi efek warna yang disebabkan oleh senyawa curcumin dan bis-desmethoxy curcumin. Efek warna pada kunyit sangat sensitive terhadap pH warna kuning akan semakin cemerlang pada pH asam sedang dalam pH basa warna kuning akan berubah menjadi merah. Banyak digunakan untuk olahan daging dank are serta olahan lainnya. Paprika tidak pedas sebagaimana cabai tetapi paprika memiliki zat warna seperti capsanthin, capsarumbin, b-carotene, cryptoxiantin yang sangat peka terhadap cahaya.
(Haryati, 2013)

2.3.      Pengertian Rempah-Rempah Jahe
Jahe merupakan salah satu jenis tanaman obat yang berpotensi besar untuk dikembangkan sebagai bumbu, bahan obat tradisional, dan bahan baku minuman serta makanan. Jahe banyak dimanfaatkan sebagai obat antiinflamasi, obat nyeri sendi dan otot, tonikum, serta obat batuk. Jahe juga diandalkan sebagai komoditas ekspor non migas dalam bentuk jahe segar, jahe kering, minyak atsiri, dan oleoresin. (Almasyhuri dkk, 2012)


Jahe (Zingiber officinale) adalah salah satu rempah-rempah yang sudah lama dimanfaatkan sebagai tanaman obat. Di Indonesia terdapat tiga jenis klon (kultivar) jahe, yaitu jahe kecil, jahe merah dan jahe besar. (Lisna Mayani dkk, 2014)
Jahe merupakan salah satu rempah-rempah penting. Rimpangnya sangat luas dipakai, antara lain sebagai bumbu masak, pemberi aroma dan rasa pada makanan seperti roti, kue, biscuit, kembang gula dan berbagai minuman. Jahe juga
digunakan dalam industry obat, minyak wangi dan jamu tradisional. Jahe muda dimakan sebagai lalaban, diolah menjadi asinan dan acar. Adapun klasifikasi tanaman jahe adalah sebagai berikut:
Divisi               : Spermatophyta
Sub-divisi        : Angiospermae
Kelas               : Monocotyledoneae
Ordo                : Zingiberales
Famili              : Zingiberaceae
Genus              : Zingiber
Species            : Zingiberofficinale
Jahe tergolong tanaman herbal, tegak, dapat mencapai ketinggian 40 – 100 cm dan dapat berumur tahunan. Batangnya berupa batang semu yang tersusun dari helaian daun  yang pipih memanjang dengan ujung lancip. Bunganya terdiri dari tandan bunga yang  berbentuk kerucut dengan kelopak berwarna putih kekuningan. Akarnya sering disebut rimpang jahe berbau harum dan berasa pedas. Rimpang bercabang tak teratur, berserat kasar, menjalar mendatar. Bagian dalam berwarna kuning pucat.(L. Kurniasari dkk, 2008)
Jahe (Zingiber Officianale Roxb) termasuk kedalam family zingiberaceae. Memiliki bentuk rimpang yang bercabang-cabang, berwarna putih kekuningan dan berserat. Bentuk rimpang jahe pada umumnya gemuk agak pipih dan kulitnya mudah dikelupas. Rimpang jahe berbau harum dan berasa pedas. Rimpang jahe dapat dimanfaatkan sebagai bumbu masak, manisan, minuman, obat-obatan tradisional serta sebagai bahan tambahan kue, pudding dan lain-lain. Disamping itu rimpang jahe dapat diambil oleoresinnya yang dapat digunakan untuk industry parfum, sabun, kosmetika, farmasi dan lain-lain.
Komposisi Kimia Rimpang jahe pada umumnya mengandung minyak atsiri 0.25-3.3%. Minyak atsiri ini menimbulkan aroma khas jahe dan terdiri atas beberapa jenis minyak terpenting zingiberene, curcumene, philandren dan sebagainya. Jahe juga mengandung ginggerols dan shogaols yang menimbulkan rasa pedas. ginggerols dan shogaols banyak terdapat dalam oleoresin jahe. Oleoresin jahe mengandung sekitar 33% ginggerols. Rimpang jahe mengandung lemak sekitar 6-8%, protein 9%, karbohidrat 50% lebih, vitamin khususnya niacin dan vitamin A beberapa jenis mineral dan asam amino. Ekstrak jahe mempunyai daya antioksidan yang dapat dimanfaatkan untuk mengawetkan minyak dan lemak. (Sedarnawati Yasni, 2012)

v  Kandungan dan Manfaat Jahe
Indonesia merupakan negara dengan keanekaragaman tanaman hayati terutama hasil pertanian dan rempah-rempah. Hal ini didukung oleh keadaan geografis Indonesia yang beriklim tropis dengan cura hujan yang rata-rata tinggi sepanjang tahun. Jahe (Zingiber officinale) dikenal baik di masyarakat Indonesia sebagai salah satu rempah. Hampir semua wilayah di tanah air umumnya memanfaatkan jahe hanya sebagai salah bahan masakan yang diyakini memiliki banyak manfaat sebagai obat kembung, penghangat badan, dan menyembuhkan iritasi. Rimpang jahe memiliki banyak kegunaan pada penggunaan tradisional, antara lain untuk obat sakit kepala,masuk angin, dan menambah nafsu makan (stimulansia). Jahe juga merupakan tanaman yang memiliki kandungan zat antioksidan yakni oleoresin. Studi pada mahasiswa yang diberi minuman jahe menunjukkan adanya perbaikan sistem imun (kekebalan tubuh) [3]. Umbi jahe mengandung senyawa oleoresin yang lebih dikenal sebagai gingerol yang bersifat sebagai antioksidan. (Agus Martua Ibrahim dkk, 2015)
Jahe (Zingiber officinale (L.) Rosc.) mempunyai kegunaan yang
cukup beragam, antara lain sebagai rempah, minyak atsiri, pemberi aroma, ataupun sebagai obat (Bartley dan Jacobs 2000). Secara tradisional, kegunaannya antara lain untuk mengobati penyakit rematik, asma, stroke, sakit gigi, diabetes, sakit otot, tenggorokan, kram, hipertensi, mual, demam dan infeksi.( BH. Ali, 2008)
Sifat khas jahe disebabkan adanya minyak atsiri dan oleoresin jahe. Aroma harum jahe disebabkan oleh minyak atsiri, sedangkan oleoresinnya menyebabkan rasa pedas. Mnnyak atsiri dapat diperoleh atau diisolasi dengan destilasi uap dari rhizoma jahe kering. Ekstrak minyak jahe berbentuk cairan kental berwarna kehijauan sampai kuning, berbau harum tetapi tidak memiliki komponen pembentuk rasa pedas. Kandungan minyak atsiri dalam jahe kering sekitar 1–3 %.. Komponen utama minyak atsiri jahe yang menyebabkan bau harum adalah zingiberen dan zingiberol. Oleoresin jahe banyak mengandung komponen pembentuk rasa pedas yang tidak menguap. Komponen dalam oleoresin jahe terdiri atas gingerol dan zingiberen, shagaol, minyak atsiri dan resin. Pemberi rasa pedas dalam jahe yang utama adalah zingerol.Fraksi utama dalam jahe dibedakan menjadi dua yakni fraksi volatil dan non volatil, komponenkomponen msing-masing fraksi disajikan pd Tabel 2.
Sejak dulu jahe dipergunakan sebagai obat atau bumbu dapur dan aneka keperluan lainnya. Jahe dapat merangsang kelenjar pencernaan, baik untuk membangkitkan nafsu makan dan pencernaan. Jahe yang digunakan sebagai bumbu masak, terutama berkhasiat untuk menambah nafsu makan, memperkuat lambung, dan memperbaiki pencernaan.

Tabel 2. Komponen Volatil dan Non Volatil

Fraksi
Komponen
Non Volatil
Gingerol, shogaol, gingediols, gingediacetates, gingerdiones,
gingerenones.
Volatil
(-) zingiberene, (+) arcurcumene, (-) -β sesquipelandrene, β bisabolene, α-pinene, bomyl acetate, borneol, champhene, ρ-cymene, cineol, citral, cumene, β-elemene, farnesene.

Hal ini dimungkinkan karena terangsangnya selaput lendir perut besar dan usus oleh minyak asiri yang dikeluarkan rimpang jahe. Minyak jahe berisi gingerol yang berbau harum khas jahe, berkhasiat mencegah dan mengobati mual dan muntah, rasanya yang tajam merangsang nafsu makan, memperkuat otot usus, membantu mengeluarkan gas usus serta membantu fungsi jantung. Dalam pengobatan tradisional Asia, jahe dipakai untuk mengobati selesma, batuk, diare dan penyakit radang sendi tulang seperti artritis. Jahe juga dipakai untuk meningkatkan pembersihan tubuh melalui keringat. Penelitian modern telah   membuktikan secara ilmiah berbagai manfaat jahe, antara lain:
·         Menurunkan tekanan darah
·         Membantu pencernaan, karena jahe mengandung enzim pencernaan yaitu
protease dan lipase, yang masing-masing mencerna protein dan lemak
·         Gingerol pada jahe bersifat antikoagulan
·         Mencegah mual
·         Membuat lambung menjadi nyaman, meringankan kram perut dan membantu mengeluarkan angin
·         Jahe mengandung antioksidan yang membantu menetralkan efek merusak yang disebabkan oleh radikal bebas di dalam tubuh.
(L. Kurniasari dkk, 2008)
Jahe mempunyai banyak manfaat antara lain yaitu sebagai bumbu untuk masakan, bahan baku minuman dan obat-obatan, dalam bidang makanan atau minuman, jahe dapat dibuat wedang jahe, sekoteng, manisan jahe, wedang kopi jahe, dan sebagianya. (Wina Eka Wahyu Lestari, 2006)
Jahe merupakan salah satu jenis tanaman obat yang berpotensi besar untuk
dikembangkan sebagai bumbu, bahan obat tradisional, dan bahan baku minuman serta makanan. Jahe banyak dimanfaatkan sebagai obat anti inflamasi, obat nyeri sendi dan otot, tonikum, serta obat batuk. Jahe juga diandalkan sebagai komoditas ekspor nonmigas dalam bentuk jahe segar, jahe kering, minyak atsiri, dan oleoresin. (Hefika Cipta Sari, 2006)


2.4.      Penggolongan Rempah-Rempah Jahe
Jahe dibedakan menjadi 3 jenis berdasarkan ukuran, bentuk dan warna rimpangnya, yaitu:

a)      Jahe Merah
Jahe merah (Zingiber officinale Roscoe.Sunti Valeton) termasuk dalam familia Zingiberaceae (jahe-jahean), rimpangnya berwarna merah, dipanen setelah tua, mengandung minyak atsiri lebih besar dari jahe gajah dan jahe kecil. Minyak atsirinya terdiri dari zingeberin, felandren, kamfen, limonene, borneol, sineol, sitral, dan zingeberol. Secara empiris jahe biasa digunakan sebagai obat masuk angin, gangguan pencernaan, analgesic, antipiretik dan anti inflamasi. Jahe juga mengandung komponen aktif non volatile fenol antara lain gingerol, shogaol dan zingeron yang memiliki aktifitas sebagai antioksidan. (Almasyhuri dkk, 2012)
Jahe merah rimpangnya berwarna merah dan lebih kecil daripada jahe putih kecil. Sama seperti jahe kecil, jahe merah selalu dipanen setelah tua, dan juga memiliki kandungan minyak atsiri yang sama dengan jahe kecil, sehingga cocok untuk ramuan obat-obatan.  Jahe merah (Z.officanale var. rubrum) mempunyai rimpang kecil berlapis, aroma sangat tajam, berwarna jingga muda sampai merah dengan diameter 4,20 – 4,26 cm, tinggi dan panjang rimpang 5,26 – 10,40 dan 12,33 – 12,60 cm, warna daun hijau muda, batang hijau kemerahan dengan kadar minyak atsiri 2,58 – 3,90%. (L. Kurniasari dkk, 2008)
Rimpang jahe merah berwarna merah, lebih kecil dari pada jahe emprit. Kons-tituen minyak atsiri Jahe merah memiliki kemiripan dengan jahe emprit, sehingga cocok untuk ramuan obat-obatan. (Harmono dan Andoko A., 2005)


b)      Jahe Emprit
Jahe emprit (Zingiber officinale var.Rubrum) merupakan salah satu jenis jahe yang banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku obat-obatan. Hal ini dikarenakan
rimpang jahe emprit berserat lembut, beraroma tajam, dan berasa pedas meskipun
ukuran rimpang kecil. Rimpang jahe emprit juga mengandung gizi cukup tinggi, antara lain 58% pati, 8% protein, 3-5% oleoresin dan 1-3% minyak atsiri. Semakin pesatnya industry obat tradisional dan industri lain yang menggunakan bahan baku jahe menyebabkan permintaan jahe cenderung meningkat, namun upaya pemenuhan kuantitas bahan baku tersebut masih mengalami hambatan terutama dalam pengadaannya. (Hefika Cipta Sari dkk, 2006)
Jahe putih/kuning kecil atau disebut juga jahe sunti atau jahe emprit ruasnya kecil, agak rata sampai agak sediki tmenggembung.  Jahe ini selalu dipanen setelah berumur tua. Kandungan minyak atsirinya lebih besar daripada jahe gajah, sehingga rasanya lebih pedas, disamping seratnya tinggi, jahe ini cocok untuk ramuan obat-obatan, atau untuk diekstrak oleoresin dan minyak atsirinya. Jahe putih kecil (Z. officinale var. amarum) mempunyai rimpang kecil berlapis-lapis, aroma tajam, berwarna putih kekuningan dengan diameter 3,27 – 4,05 cm, tinggi dan panjang rimpang 6,38 – 11,10 cm dan 6,13 – 31,70 cm, warna daun hijau muda, batang hijau muda dengan kadar minyak atsiri 1,50 – 3,50%. (L. Kurniasari dkk, 2008)

c)      Jahe Gajah


Jahe putih/kuning besar atau disebut juga jahe gajah atau jahe badak rimpangnya lebih menggembung dari kedua varietas lainnya. Jenis jahe ini bisa dikonsumsi baik saat berumur muda maupun berumur tua, baik sebagai jahe segar maupun jahe olahan. Jahe gajah biasanya memiliki diameter 8,47 – 8,50 cm, aroma kurang tajam, tinggi dan panjang rimpang 6,20 – 11,30 cm dan 15,83 – 32,75 cm, warna daun hijau muda, batang hijau muda dengan kadar minyak atsiri didalam rimpang 0,82 – 2,8%. (L. Kurniasari dkk, 2008)

2.5.      Komponen Kimia Jahe

Komponen
Jumlah
Jahe Segar
Jahe Kering
Energi (KJ)
184,0
1424,1
Protein (g)
1,5
9,1
Lemak (g)
1,0
6,0
Karbohidrat (g)
10,1
70,8
Kalsium (mg)
21
116
Phospat (mg)
39
148
Besi (mg)
4,3
12
Vitamin A (SI)
30
147
Thiamin (mg)
0,02
-
Niasin (mg)
0,8
5
Vitamin C (mg)
4
-
Serat kasar (g)
7,53
5,9
Total abu (g)
3,70
4,8
Magnesium (mg)
-
184
Natrium (mg)
6,0
32
Kalium (mg)
57,0
1342
Seng (mg)
-
5

(Sutrisno Koswara dkk, 2012)

2.6.      Faktor yang Mempengaruhi Komposisi Rimpang Jahe
A. Jenis
Jahe dibedakan menjadi 3 jenis berdasarkan ukuran, bentuk dan warna rimpangnya, yaitu:
·         Jahe Merah
Jahe merah rimpangnya berwarna merah dan lebih kecil daripada jahe putih kecil. Sama seperti jahe kecil, jahe merah selalu dipanen setelah tua, dan juga memiliki kandungan minyak atsiri yang sama dengan jahe kecil, sehingga cocok untuk ramuan obat-obatan.  Jahe merah (Z.officanale var. rubrum) mempunyai rimpang kecil berlapis, aroma sangat tajam, berwarna jingga muda sampai merah dengan diameter 4,20 – 4,26 cm, tinggi dan panjang rimpang 5,26 – 10,40 dan 12,33 – 12,60 cm, warna daun hijau muda, batang hijau kemerahan dengan kadar minyak atsiri 2,58 – 3,90%.
·         Jahe Emprit
Jahe putih/kuning kecil atau disebut juga jahe sunti atau jahe emprit ruasnya kecil, agak rata sampai agak sediki tmenggembung.  Jahe ini selalu dipanen setelah berumur tua. Kandungan minyak atsirinya lebih besar daripada jahe gajah, sehingga rasanya lebih pedas, disamping seratnya tinggi, jahe ini cocok untuk ramuan obat-obatan, atau untuk diekstrak oleoresin dan minyak atsirinya. Jahe putih kecil (Z. officinale var. amarum) mempunyai rimpang kecil berlapis-lapis, aroma tajam, berwarna putih kekuningan dengan diameter 3,27 – 4,05 cm, tinggi dan panjang rimpang 6,38 – 11,10 cm dan 6,13 – 31,70 cm, warna daun hijau muda, batang hijau muda dengan kadar minyak atsiri 1,50 – 3,50%.
·         Jahe Gajah
Jahe putih/kuning besar atau disebut juga jahe gajah atau jahe badak rimpangnya lebih menggembung dari kedua varietas lainnya. Jenis jahe ini bisa dikonsumsi baik saat berumur muda maupun berumur tua, baik sebagai jahe segar maupun jahe olahan. Jahe gajah biasanya memiliki diameter 8,47 – 8,50 cm, aroma kurang tajam, tinggi dan panjang rimpang 6,20 – 11,30 cm dan 15,83 – 32,75 cm, warna daun hijau muda, batang hijau muda dengan kadar minyak atsiri didalam rimpang 0,82 – 2,8%.
 (L. Kurniasari dkk, 2008)

B. Kondisi Tanah
Tanaman jahe dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah. Kondisi tanah yang diharapkan adalah lahan subur, gembur dan berhumus baik secara fisik maupun kimia.  Kesuburan fisik untuk memberikan kesempatan kepada akar untuk berkembang secara luas, sedangkan kesuburan kimia tanah dapat menyediakan unsur hara dalam jumlah yang cukup dan keadaan tersedia untuk diserap olah tanaman.  Setiap jenis tanah mempunyai nilai kesuburan yang berbeda, sehingga nantinya akan mempengaruhi pertumbuhan, hasil dan kandungan kimia tanaman,  sehingga perlu dipelajari program pemupukan berbeda  untuk setiap jenis tanah.
Program pemupukan ini untuk meningkatkan kesuburan baik fisik, kimia maupun biologi diperlukan pemberian pupuk organik seperti pupuk kandang. Peranan pupuk kandang sangat ditentukan oleh sumber dan susunan makanan ternak, kelancaran dekomposisi serta hasil dekomposisi. Keragaman kualitas bahan organik disebabkan oleh sumber bahan organik yang menentukan hasil dekomposisinya. Kandungan N, P2O5 serta K2O yang terdapat dalam pupuk kandang dari : ayam adalah 1,0%; 0,80%; 0,4%; kambing  0,95%; 0,35%; 1,0%; dan sapi 0,60%; 0,15%; 0,45%. Jumlah bahan organik yang terdapat pada pupuk kandang kambing, sapi, dan ayam berturut-turut adalah 38%, 12%, dan 20%.
Bahan organik di dalam tanah didekomposisi oleh mikro organisme tanah yang menghasilkan humus yang mengandung unsur hara yang dibutuhkan tanaman.  Humus di dalam tanah dapat memperbaiki kestabilan dan struktur tanah, membantu agregasi tanah, memperbaiki drainase dan aerasi tanah. Bahan organik tanah berperan sebagai reservoir untuk hara dan mencegah pencucian hara serta meningkatkan KPK tanah. ( Kambang Vetrani Asie dkk, 2013)

C. Umur Panen
Selama ini, petani menetapkan umur panen rimpang benih jahe putih besar (JPB) setelah mencapai 9-10 bulan setelah tanaman (BST). Tanaman jahe yang siap dipanen ditandai dengan luruhnya daun dan batang.Luruhnya sebagian besar daun dan batang menandakan telah berhentinya transfer fotosintat, dari daun ke organ penyimpanan, seperti rimpang. Penundaan panen yang terlalu lama setelah daun luruh menyebabkan mutu benih turun karena serangan OPT. Rimpang akan bertunas kembali apabila terkena siraman air hujan. Kondisi ini menyebabkan penyusutan bobot rimpang karena adanya aktivitas fisiologis. (Devi Rusmin dkk, 2015)




D. Cara Budidaya
Budidaya tanaman jahe perlu menggunakan tanaman pelindung, untuk menjaga kelembaban udara di lingkungan pertanaman jahe. Tanaman jahe menginginkan kelembaban udara yang cukup tinggi yaitu 60 – 90%. Suhu optimum untuk budidaya tanaman jahe antara 20 – 250o C. Tanaman jahe membentuk rimpang dan besar kecilnya bergantung pada varietas tanaman. Rimpang agak pipih kepinggir membentuk cabang (ranting) ke segala arah yang saling tumpang tindih. Cabang rimpang yang berada di atas dapat membentuk batang baru, sedangkan yang berada di di bagian bawah merupakan perakaran baru. Untuk meningkatkan perkembangan akar dan pertumbuhan tunas maka dibutuhkan suatu bahan yang dapat merangsangnya, salah satunya dengan menggunakan air kelapa. Air kelapa adalah salah satu bahan alami, di dalamnya terkandung hormon seperti sitokinin 5.8 mg/l, auksin 0.07 mg/l dan giberelin sedikit sekali, serta senyawa lain ayang dapat menstimulasi perkecambahan dan pertumbuhan. (Lili Wahyuni dkk, 2013)
Permasalahan utama budidaya jahe adalah sulitnya menjaga ketersediaan rimpang benih bermutu dalam jumlah cukup pada waktu diperlukan oleh pengguna. Permasalahan tersebut antara lain disebabkan oleh rendahnya mutu bahan tanaman, seperti umur panen yang tidak tepat serta bobot benih cepat menyusut dan mudah bertunas saat di penyimpanan. (Farry B. Paimin dan Murhananto. 1999)

E. Penangan Pasca Panen dan Pengolahan
Dalam proses pengolahan jahe, pengolahan bahan mentah menjadi bahan setengah jadi termasuk kandungan senyawa yang berperan dalam performansinya, harus tetap diperhatikan karena berkaitan dengan hasil akhir olahan. Setelah panen, rimpang harus segera dicuci dan dibersihkan dari tanah yang melekat. Pencucian disarankan menggunakan air yang bertekanan, atau dapat juga dengan merendam jahe dalam air, kemudian disikat secara hati-hati. Setelah pencucian jahe ditiriskan dan diangin-anginkann dalam ruangan yang berventilasi udara yang baik, sehingga air yang melekat akan teruapkan. Kemudian jahe dapat diolah menjadi berbagai produk atau langsung dikemas dalam karung plastik yang berongga dan siap untuk diekspor.
Dari jahe dapat dibuat berbagai produk yang sangat bermanfaat dalam menunjang industri obat tradisional, farmasi, kosmetik dan makanan/minuman. Ragam bentuk hasil olahannya, antara lain berupa simplisia, oleoresin, minyak atsiri dan serbuk. (Farry B. Paimin dan Murhananto. 1999)

2.7.      Perubahan Pasca Panen pada Jahe
Secara umum, benih akan mengalami penurunan mutu selama proses penyimpanan. Sebagai contoh, pada rimpang jahe terjadi beberapa gejala penurunan mutu selama proses penyimpanan, seperti kerusakan fisik/stabilitas membran sel, yang dicirikan dengan kebocoran ion, peningkatan respirasi, penyusutan bobot, penurunan kadar air, perubahan warna (greening), dan terjadi pertunasan serta perubahan hormon endogen.
Respirasi akan meningkat dengan semakin tingginya suhu ruang simpan. Peningkatan aktivitas respirasi pada benih kentang menyebabkan penurunan bobot umbi. Laju respirasi rimpang jahe tinggi pada waktu panen kemudian menurun dengan kondisi simpan atau pada saat dorman dan kembali meningkat pada saat pertunasan atau dormansi pecah.
Penyimpanan rimpang jahe pada suhu yang rendah dapat menyebabkan terjadinya dormansi tunas. Dormansi pada rimpang jahe akan hilang secara bertahap selama penyimpanan. Pecahnya dormansi rimpang jahe disertai dengan perubahan-perubahan biokimia. Peningkatan kandungan dan sensitivitas sitokinin
merupakan faktor utama penyebab pecahnya dormansi pada rimpang jahe. Selanjutnya, auksin dan giberelin endogen bekerja dalam pertumbuhan tunas.
Sementara itu, pada rimpang jahe ditandai dengan penyusutan bobot dan penurunan kadar air. Hal ini sangat penting untuk diketahui karena umur panen yang optimal sangat menentukan mutu dan daya simpan rimpang benih jahe, terutama JPB. Dengan diketahuinya perubahan fisiologis selama penyimpanan rimpang benih jahe diharapkan dapat menentukan teknik penyimpanan yang tepat sehingga dapat mempertahankan mutu benih sampai tanam berikutnya. (Devi Rusmin dkk, 2015)
BAB III
KESIMPULAN

1.      Rempah-rempah berfungsi untuk meningkatkan cita rasa dan sebagai pengawet makanan.
2.      Berbagai jenis rempah-rempah antara lain kayu manis, cabe, lengkuas, cengkeh, jahe, kunyit, ketumbar, mint, pala, dan masih banyak yang lain.
3.      Jahe merupakan rempah-rempah yang banyak dimanfaatkan di Indonesia.
4.      Jahe dibedakan menjadi 3 jenis berdasarkan ukuran, bentuk dan warna rimpangnya, yaitu jahe merah, jahe emprit, dan jahe gajah.
5.      Beberapa faktor yang mempengaruhi komposisi kimia rimpang jahe antara lain : jenis, kondisi tanah, umur panen, cara budidaya, penanganan pasca panen dan pengolahan.
6.      Perubahan pasca panen pada rimpang jahe akan mengalami penurunan mutu selama proses penyimpanan, seperti kerusakan fisik/stabilitas membran sel, yang dicirikan dengan kebocoran ion, peningkatan respirasi, penyusutan bobot, penurunan kadar air, perubahan warna (greening), dan terjadi pertunasan serta perubahan hormon endogen.





DAFTAR PUSTAKA
Ali, B.H., G. Blunden, M. O. Tanira dan A. Nemmar. 2008. Some phytochemical, pharmacological and toxicological properties of ginger (Zingiber officinale Roscoe): A review of recent research. Food and Chemical Toxicology. 46 : 409–420.
Almasyhuri., Sri Wardatun dan Leni Nuraeni. 2012. “Perbedaan Cara Pengirisan Dan Pengeringan Terhadap Kandungan Minyak Atsiri dalam Jahe Merah (Zingeber officinale Roscoe.Sunti Valeton)”. Bul. Penelit. Kesehat, Vol. 40, No. 3: 123 – 129.
Asie, Kambang Vetrani., Saputera., Hadinnupan Panupesi dan Syahrudin. 2013. “Pengaruh Pupuk Kandang pada Berbagai Jenis Tanah Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Jahe”.  Jurnal agripeat Vol. 14 No. 1.
Harmono, dan Andoko A. 2005. “Budidaya dan Peluang Bisnis Jahe”. Hal 8-10. Argomedia Pustaka.
Haryati. 2013. “Rempah-Rempah dan Bahan Penyegar”. Bandung: Teknologi Agroindustri.
Ibrahim, Agus Martua., Yunianta dan Feronika Heppy Sriherfyna. 2015.” Pengaruh Suhu dan Lama Waktu Ekstraksi Terhadap Sifat Kimia dan Fisik pada Pembuatan Minuman Sari Jahe Merah (Zingiber officinale var. Rubrum) dengan Kombinasi Penambahan Madu sebagai Pemanis”. Jurnal Pangan dan Agroindustri Vol. 3 No 2 p.530-541.
Koswara, Sutrisno., Astrid Diniari dan Sumarto. 2012. “Panduan Proses Produksi Minuman Jahe Merah Instan”. Bogor: Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Pertanian Bogor.
Kurniasari, L., I. Hartati., R.D. Ratnani dan I. Sumantri. 2008. “Kajian Ekstraksi Minyak Jahe Menggunakan Microwave Assisted Extraction (MAE)”. Momentum, Vol. 4, No. 2, Oktober 2008 : 47 – 52.
Lestari, Wina Eka Wahyu. 2006.” Pengaruh Nisbah Rimpang Dengan Pelarut
Dan Lama Ekstraksi Terhadap Mutu Oleoresin Jahe Merah (Zingiber officinale
var. rubrum)”. Bogor: Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor.
Mayani, Lisna., Sudarminto Setyo Yuwono dan Dian Widya Ningtyas. 2012. “Pengaruh Pengecilan Ukuran Jahe Dan Rasio Air Terhadap Sifat Fisik Kimia Dan Organoleptik Pada Pembuaran Sari Jahe (Zingiber officinale)”. Jurnal Pangan dan Agroindustri Vol. 2 No 4 p.148-158.
Muchtadi, Tien R., dkk. 2010. ”Ilmu Pengetahuan Bahan Pangan”. Bogor: Alfabeta.
Paimin, Farry B. dan Murhananto. 1999. Budidaya, Pengolahan, Perdagangan Jahe. Edisi Revisi. Penebar Swadaya.
Parthasarathy, V.A., Chempakam, B. dan Zachariah, T.J. 2009. Chemistry of Spices. Biddles Ltd, King’s Lynn. UK.
Rusmin, Devi., M.R. Suhartanto., Satrias Ilyas., Dyah Manohara dan Eny Widajaty. 2015. “Pengaruh Umur Panen Rimpang Terhadap Perubahan Fisiologi dan Viabilitas Benih Jahe Putih Besar Selama Penyimpanan”. Jurnal Littri VOL. 21 No. 1: 17 – 24.
Sari, Hefika Cipta., Sri Darmanti dan Endah Dwi Hastuti. 2006. “Pertumbuhan Tanaman Jahe Emprit (Zingiber Officinale Var. Rubrum) pada Media Tanam Pasir dengan Salinitas yang Berbeda”. Buletin Anatomi dan Fisiologi
Vol. XIV, No. 2.
Sianipar, Dorkas., Sugiyono dan Rizal Syarief. 2008. “Kajian Formulasi Bumbu Instan Binthe Biluhuta, Karakteristik Hidratasi dan Pendugaan Umur Simpannya dengan Menggunakan Metode Pendekatan Kadar Air Kritis”. Jurnal Teknologi dan Industri Pangan, Vol. XIX No. 1.
Wahyuni, Lili., Asil Barus dan Syukri. 2013. “Respon Pertumbuhan  Jahe Merah (Zingiber officinale Rosc.) Terhadap Pemberian Naungan dan Beberapa Teknik Bertanam”. Jurnal Online Agroekoteknologi Vol.1, No.4.
Yasni, Sedarnawati. (2012). Teknologi Pengolahan dan Pemanfaatan Produk Ekstraktif Rempah. Bogor: IPB Press.







/* Start http://www.cursors-4u.com */ body, a:hover {cursor: url(http://cur.cursors-4u.net/smilies/smi-3/smi266.ani), url(http://cur.cursors-4u.net/smilies/smi-3/smi266.png), progress !important;} /* End http://www.cursors-4u.com */
 

REMPAH-REMPAH Template by Ipietoon Cute Blog Design